KAJIAN DAYA DUKUNG SUMBER AIR HUJAN TERHADAP
RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KOTA DEPOK
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kota Depok adalah bagian dari Propinsi
Jawa Barat yang terletak disebelah Selatan
kota Jakarta. Batas administratif Kota
Depok yaitu: Sebelah Utara adalah
propinsi DKI Jakarta, sebelah Timur adalah
kabupaten Bekasi, sebelah Barat adalah
kabupaten Tangerang, dan sebelah Selatan
adalah kabupaten Bogor. Jakarta sebagai Ibu Kota Negara sebagai
tempat perputaran ekonomi terbesar di
Indonesia, oleh sebab itu Jakarta juga
merupakan tempat tujuan untuk
mendapatkan peruntungan bagi masyarakat,
maka hal ini yang menyebabkan tingginya
urbanisasi ke Jakarta. Pesatnya arus
urbanisasi ke Jakarta memberikan dampak
terlampauinya tingkat kepadatan
maksimum dan batasan daya tampung
penduduk, sehingga daerah sekitar Jakarta
(Jabodetabek) menjadikan alternatif pilihan
sebagai tempat pemukiman seperti Depok.
Depok menjadi salah satu pilihan wilayah
bermukim bagi para komuter yang bekerja
di Jakarta, disamping diantaranya
disebabkan oleh semakin tingginya harga
tanah di Jakarta dan kompleksnya masalah
tata ruang dan lingkungan.
Depok adalah salah satu wilayah yang saat
ini berkembang menjadi suatu wilayah
pemukiman yang secara tidak langsung
berfungsi untuk mengimbangi arus
urbanisasi yang terjadi di Jakarta. Selain
perkembangan wilayah pemukiman,
perkembangan kota Depok yang lain juga
terjadi dalam bidang perindustrian,
pendidikan, perkantoran dan perdagangan.
Perubahan fisik yang terjadi begitu cepat
dengan pola kehidupan kota besar
memberikan pengaruh dalam
perkembangan perkotaan Depok secara
keseluruhan yang meliputi pembangunan
sarana dan prasarana fisik seperti sekolah,
industri kecil, besar, perkantoran dan
perdagangan mulai dari skala kecil,
menengah dan besar.
Semakin maraknya
fasilitas diatas dan fasilitas umum lainnya,
dibeberapa ruas jalan terjadinya kemacetan
dan kepadatan di daerah pemukiman.
Sebagai konsekuensi pengembangan daerah
pemukiman diiringi langsung terhadap
pesatnya pembangunan fisik dan infra
struktur akan berdampak terjadinya
perubahan tata guna lahan seiring dengan
perubahan kondisi sosial, ekonomi, dan
budaya. Hal ini secara langsung akan
menyebabkan terjadinya kenaikan
kebutuhan air dan pemanfaatan sumber
daya air sebagai penunjang kehidupan.
Perubahan fungsi lahan dikhawatirkan akan
berpengaruh cukup besar terhadap
kemampuan sumber lahan dan potensi
sumber daya air yang tersedia yang pada
akhirnya akan menyebabkan berkurangnya
kemampuan kota Depok sebagai kawasan
penyangga air untuk resapan dan daerah
tangkapan hujan yang potensial.
Keterbatasan pasokan air dari Perusahan
Daerah Air Minum (PDAM), tidak
mencukupi untuk memenuhi kebutuhan
penduduk akan air di Kota Depok, hal ini
tentu menyebabkan terjadinya eksploitasi
sumber air tanah secara berlebihan oleh
masyarakat pengguna air, sehingga terjadi
penurunan daya dukung sumber air yang
tersedia dan pada akhirnya menurunkan
potensi ketersediaan air.
Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah
(RTRW) Kota Depok tahun 2000 - 2010,
bahwa pada tahun 2000 presentasi luas
daerah pemukiman sebesar 43,31%, tahun
2005 menjadi sebesar 49,88 % dan
ternyata pada tahun 2010 menjadi sebesar
50,12 %.
Sebagai dampak gejala pergerakan fungsi
tata guna lahan mengakibatkan fluktuasi
sumber daya air yang ditandai dengan debit
limpasan air hujan semakin tinggi menuju
saluran drainase maupun ke daerah
cekungan, sehingga debit pasokan yang
merupakan rembesan kedalam tanah
semakin menurunkan kuantitas dari sumber
yang ada dan diiringi juga dengan ancaman
pencemaran dari sumber limbah
pemukiman, hal ini secara keseluruhan akan
dapat menurunkan kualitas sumber air.
Masalah Penelitian
Sumber air bersih yang dapat digunakan
untuk mendukung kehidupan suatu wilayah
pada dasarnya berasal dari air hujan yang
mengalir kedalam tanah kemudian
tersimpan sebagai air tanah. Sedangkan air
hujan yang mengalir di permukaan sebagai
air limpasan terus mengalir kedalam kali –
kali, danau, situ dan waduk di wilayah tersebut. Potensi air yang dapat
dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan
akan air di wilayah Depok (daya dukung
sumber air hujan) sangat dipengaruhi oleh
banyak faktor baik internal maupun
eksternal suatu wilayah Depok.
Beberapa studi hidrologi mendeskripsikan
bahwa volume air yang menguap dan akan
berubah menjadi air hujan dalam suatu
wilayah jumlahnya relatif tidak banyak,
namun permasalahan yang terjadi adalah
jumlah air yang dibutuhkan penduduk
cenderung mengalami peningkatan.
Dua
penomena tersebut mengakibatkan
kekhawatiran terjadinya krisis sumber daya
air. Namun demikian dengan mengetahui
permasalahan dari potensi sumber air lebih
dini diharapkan dapat dilakukan langkahlangkah
antisipasi dan optimasi daya
dukung sumber air yang ada dengan
pendekatan ilmu pengetahuan dan teknologi
dan manajemen pengendalian pola
konsumsi penggunaan air, maka daya
dukung sumber air pada suatu wilayah
dapat dioptimalkan dengan baik.
Kota Depok adalah salah satu wilayah yang
banyak mendapat tekanan dan limpahan
arus migrasi dari Kota Jakarta, sehingga
untuk meninjau potensi atau daya dukung
sumber air wilayah kota Depok harus
terintegrasi dengan beberapa faktor internal
seperti kondisi hidrologis, kebijakan dan
pola penggunaan lahan, kondisi sosial,
ekonomi dan budaya masyarakat kota
Depok itu sendiri dan faktor eksternal yang
meliputi fungsi dan peranan kota Depok
sebagai kota pengimbang ibu Kota Jakarta.
Permasalahan umum dalam Kajian Daya
Dukung Sumber air Hujan terhadap
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)
Kota Depok ini adalah seberapa kebutuhan
air untuk penduduk berdasarkan RTRW
sampai tahun 2010, yang dibandingkan
dengan potensi ketersediaan sumber air
hujan serta kondisi neraca / keseimbangan.
Pertanyaan penelitian yang berhasil
dirumuskan adalah sebagai berikut :
- Berapa potensi ketersediaan sumber air hujan dari luasan wilayah Kota Depok.
- Berapa Kebutuhan air penduduk berdasarkan pengembangan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Depok sampai dengan tahun 2010
- Bagaimana kondisi Neraca / keseimbangan potensi ketersediaan dengan kebutuhan air Kota Depok
Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan permasalahan,
maka tujuan penelitian dapat dirumuskan
sebagai berikut :
- Untuk mengetahui potensi ketersediaan dari sumber air hujan wilayah Kota Depok
- Untuk mengetahui kebutuhan air dari penduduk berdasarkan pengembangan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) tahun 2010.
- Untuk mengetahui neraca / keseimbangan antara potensi ketersediaan dengan kebutuhan air di Kota Depok
Gambaran Umum Rencana Tata Ruang
Wilayah (RTRW) kota Depok
Pembangunan daerah pada dasarnya
merupakan bagian integral dari
pembangunan nasional yang harus
dilaksanakan secara serasi dan diarahkan
agar dapat berlangsung secara berdaya guna
dan berhasil guna diseluruh tingkat
administrasi daerah. Sebagai konsikuensi
atas kebijaksanaan pembangunan kota
Depok khususnya ditekankan pada upaya
peningkatan daya guna dan hasil guna
pembangunan sesuai dengan potensi dan
prioritas kota yang ada.
Salah satu upaya dalam peningkatan daya
guna dan hasil guna pembangunan
dilakukan melalui penyusunan Rencana
Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang
merupakan kebijaksanaan perpaduan
berbagai aspek dalam penyusunan rencana
tata ruang wilayah dengan integrasi antara
aspek perwujudan ruang dan pemanfaatan
ruang, dimana antar elemen aspek keduanya yang tidak berjalan dengan baik, sehingga
produk tata ruang itu kadang kala belum
dapat memenuhi tuntutan pengembangan
secara ideal. Meskipun demikian melalui
pendekatan perencanaan yang
komperhensif, diharapkan produk tata
ruang yang disusun dapat memenuhi
tuntutan pengembangan yang realistis.
Sumber daya lahan dan pemanfaatannya
dikota Depok akan mengalami tekanan
terus menerus sejalan dengan
perkembangan kota yang sedemikian pesat.
Sebagaimana kita ketahui kondisi
pemanfaatan lahan berdasarkan data
RTRW kota Depok (2000-2010) dapat
dilihat pada tabel 2.
Sebagai gambaran dapat dilihat peta
RTRW Kota Depok pada gambar 1.
Untuk jelasnya pengembangan Bagian
Wilayah Kota (BWK) disajikan dalam
gambar 2.
BAB II
METODE PENELITIAN
Jenis Metode Penelitian
Jenis metode penelitian yang dipakai adalah
metode kuantitatif, namun jenis data yang
digunakan terdiri atas data kualitatif dan
masalah penelitian kemudian dengan
metode kuantitatif. Metode penelitian
kuantitatif dipilih atas pertimbangan dalam
penelitian ini untuk mengkaji masalah
utama penelitian, maka peneliti
menggunakan cara statistik dengan data
sekunder yang bersifat kuantitatif. Selain
itu peneliti akan mengacu pada teori
mengenai kajian daya dukung sumber air
hujan terhadap Rencana Tata Ruang
Wilayah (RTRW) kota Depok tahun 2010.
Hasilnya dihubungkan dengan teori
hidrologi meliputi potensi ketersediaan
dengan kebutuhan, dan kondisi
keseimbangan antara ketersediaan dengan
kebutuhan air. Untuk menuntun peneliti
menemukan dan memahami masalah yang
terjadi seterusnya menganalisis data- data
tersebut dengan metode yang tepat. Peneliti
akan meng- analisis cara deduktif untuk
menjawab permasalahan penelitian.
Penelitian ini bersifat khusus, artinya tidak
digeneralisasi berlangsung di kota Depok
sebagai tempat lokasi penelitian, namun
tidak berarti hasil penelitian ini tidak dapat
diterapkan ditempat yang lain, apabila
kondisi tempat lain itu tidak jauh berbeda
dengan lokasi di Depok sehingga dapat
dilakukan keteralihan (transferability).
Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini dilakukan di dalam
luasan wilayah kota Depok mencakup
enam (6) kecamatan yaitu : kecamatan
Cimanggis, Sawangan , Limo, Pancoran
Mas, Beji dan Sukmajaya, sesuai dengan
Rencana Tata Ruang Wilayah ( RTRW )
kota Depok. Adapun batasan wilayah lokasi
penelitian adalah : sebelah Utara
berbatasan dengan daerah DKI, sebelah
Selatan berbatasan dengan kabupaten
Bogor, sebelah Barat berbatasan dengan
kabupaten Tangerang dan sebelah Timur
berbatasan dengan kabupaten Bekasi.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambaran Umum Wilayah Studi
Kota Depok
Merupakan wilayah yang
strategis ditinjau dari sudut geografi dan
ekonomi dalam kaitannya dengan
pembangunan Nasional dan pembangunan
Propinsi. Di dalam Rencana Tata Ruang
Wilayah (RTRW) Nasional, Kota Depok
dikategorikan sebagai kota yang
diprioritaskan pengembangannya untuk
mendukung dan merangsang
pengembangan wilayah sekitarnya,
khususnya sebagai kota pelayan (Soegijoko
1997).
Kota Depok awalnya merupakan salah satu
kecamatan di wilayah Kabupaten Bogor
yang paling potensial untuk dikembangkan
statusnya. Kenyataan itulah yang
mendorong Pemerintah Pusat untuk
meningkatkan status Kecamatan Depok
menjadi Kota Administratif Depok (Kotif
Depok), pada tahun 1982.
Perubahan ini membuat beberapa Desa di
wilayah Kotif Depok ditingkatkan statusnya menjadi Kecamatan, yaitu kecamatan
Beji, Sukmajaya dan Pancoran Mas.
Setelah 17 tahun berstatus Kotif, pada tahun
1999 berdasarkan UU Nomor 15 Tahun
1999 Depok secara resmi menjadi Kota
madya yang membawahi enam (6)
kecamatan, ditambah tiga (3) kecamatan
baru berupa pelimpahan dari Kabupaten
Bogor yaitu : Kecamatan Sawangan,
Kecamatan Limo dan Kecamatan
Cimanggis.
Luas wilayah Kota Depok pada tahun 2010
seluas 20.029 Ha atau 200,29 Km2
yang
terdiri dari 6 kecamatan dan 63 Kelurahan
(RTRW 2000-2010).(lihat grafik 1)
Kondisi klimatologi di wilayah Depok
sebagai wilayah studi mempunyai iklim
tropis, dengan temperatur rata-rata berkisar
antara 26°C hingga 28°C, sedangkan
temperatur maksimal mencapai 33°C dan
temperatur minimal mencapai 22°C.
Berdasarkan data curah hujan di Kota
Depok setiap tahunnya antara 1106 mm
hingga 4579 mm (BMKG Jakarta).
Kota Depok memiliki sebaran topografi
yang beragam yang tersebar pada
ketinggian 0 sampai 75 meter di atas
permukaan laut. Klasifikasi kelerengannya
relatif datar sebesar 0 - 15% RTRW 2000-
2010). Di seluruh wilayah kota setidaknya
terdapat 10 anak sungai, dan 19 buah situ
atau danau. Sejak tanggal 7 Mei 1999
berdasarkan keputusan Menteri Kehutanan
dan Perkebunan No. 276 / Keputusan NO :
11 /1999, Cagar Alam Pancoran Mas
berubah status menjadi Hutan Raya
Pancoran Mas, dengan luas sekitar 6 ha
yang terletak di Kelurahan Pancoran Mas,
Kecamatan Pancoran Mas merupakan
tempat pengembangan wisata alam kota
Depok.
Untuk mempertahankan keberadaan daerah
konservasi Hutan Raya Pancoran Mas
Pemerintah terus menerus melakukan
reboisasi di daerah tersebut, hal ini
berkaitan erat dengan ketersediaan lahan
untuk fungsi konservasi.
Kota Depok juga dilewati oleh banyak kalikali
yang semuanya bermuara di teluk
Jakarta. Daerah hulu kali-kali itu berada
daerah bagian Selatan tepatnya daerah
Bogor, sedangkan daerah hilir kali
bermuara ke laut bagian Utara kota Depok.
Banyaknya aliran kali-kali yang melewati
kota Depok tentu memberikan nuansa yang
khas dan sangat potensial untuk sumber air
baku, pengadaan air bersih.
Laju pertumbuhan / kepadatan penduduk
dalam suatu kota dipengaruhi oleh laju
pertumbuhan sarana, kelahiran dan
kematian serta laju migrasi. Arus migrasi
merupakan penomena penting dalam
mempengaruhi dinamika penduduk sejak
tahun 2000 hingga 2010 menjadikan
pertumbuhan penduduk rata-rata per tahun
Kota Depok adalah 4,42% atau sekitar 2
kali pertumbuhan penduduk Nasional
(RTRW 2000-2010).(lihat tabel 1)
Distribusi penyebaran dan kepadatan
pendudk di masing – masing kecamatan di
seluruh wilayah kota Depok disajikan pada
gambar 8.
Jumlah penduduk Kota Depok pada tahun
2000 adalah 1.145.091 jiwa dan pada tahun
2010 sebesar 1.675.213 jiwa (BPS Kota
Depok 2000-2010) dan pada tabel 23 dan
gambar 8 diatas menunjukkan tingkat
kepadatan penduduk masing-masing
kecamatan dengan kecamatan Beji dan
Sukmajaya kepadatanya besar dari 100 jiwa
/ Ha di wilayah Kota Depok.
Tingginya jumlah penduduk dan
pertumbuhan di Kota Depok
mengakibatkan beberapa konsekuensi
penting, di antaranya: (a) dibutuhkannya
lahan untuk keperluan pembangunan
rumah, lokasi aktivitas, fasilitas umum dan
utilitas umum lainnya serta gangguan
terhadap luasan RTH Kota (b) akan
memacu perubahan penggunaan lahan,
khususnya dari lahan yang tadinya
berfungsi sebagai RTH menjadi ruang
tertutup bangunan.
Panjang jalan negara, jalan propinsi, dan
jalan kotamadya di Kota Depok yang dirinci menurut fungsinya sebagian besar
atau sekitar 93% jalan adalah jalan local di
wilayah Kota Depok untuk jelasnya
disajikan pada tabel 2.
Berdasarkan informasi RTRW kota Depok,
BWK Pancoran Mas dan BWK Cimanggis
mempunyai fungsi dan peranan penting
dalam mempertahankan kawasan
konservasi dan hutan lindung serta menjaga
ketersediaan RTH. Pengembangan RTH
pada BWK lainnya lebih dominan untuk
membentuk RTH disekitar pemukiman,
seperti taman kota, jalur hijau, dan
halaman/pekarangan. Rencana pemanfaatan
ruang di Kota Depok pada dasarnya
diprediksi berdasarkan pertumbuhan
penduduk dan perkembangan sektor
penggunaan lahan dalam kurun waktu
tertentu, sehingga pertimbangan
perkembangan fisik yang akan terjadi sudah
dilakukan pengaturannya. Disamping itu,
rencana pemanfaatan ruang juga sudah
mempertimbangkan kecenderungan
pertumbuhan kota yang selama ini. Pada
Tabel 26 disajikan rincian pemanfaatan
ruang RTH tahun 2010 berdasarkan RTRW
Kota Depok Tahun 2000- 2010.
BAB IV
KESIMPULAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data yang telah
dilakukan, maka dapat ditarik beberapa
kesimpulan sebagai berikut:
- Potensi ketersediaan rata-rata per bulan sumber air hujan dari enam (6) kecamatan sampai tahun 2010 sebesar 13,58 Juta (m³/bln ).
- Jumlah kebutuhan masing-masing ratarata per bulan dari enam (6) kecamatan sampai tahun 2010 dari hasil analisis sebesar 2,07 juta (m³/bln )
- Keseimbangan potensi ketersediaan air hujan dengan kebutuhan air rata-rata per bulan di kota Depok
- memberikan nilai potensi ketersediaan sebesar 13,58 Juta (m³/bln ) sedangkan kebutuhan sebesar
- 2,07 juta (m³/bln ), maka hasilnya menunjukkan nilai surplus sebesar = 11,51 juta (m³/bln ) atau 84,8%.
- Berdasarkan analisis potensi ketersediaan air hujan terhadap kebutuhan air sampai dengan tahun 2010 masih mencukupi, kecuali di kecamatan Beji, terjadi defisit pada bulan September dan Oktober.
sumber :
Badan Perencanaan Pembangunan
Daerah kota Depok, tahun 2000.
Badan Pusat Statistik, 2001. Statistik
Indonesia 2000, Jakarta: BPS
Perubahan Keputusan Gubernur
Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Nomor 115 tahun 2001. tentang
Pembuatan Sumur Resapan.
Peraturan Daerah Kota kota Depok
Nomor 26 tahun 2008 tentang Tata
Ruang Wilayah.
Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia Nomor 16 tahun 2005.
Tentang Pengembangan Sistem
Penyediaan Air Minum.
Purnomohadi, S. 1995. Peran Ruang
Terbuka Hijau dalam Pengendalian
Kualitas Udara di DKI Jakarta.
https://id.wikipedia.org/wiki/RTRW_Kota_Depok
http://www.neraca.co.id/
Komentar
Posting Komentar